Crown gambling_Sabah Sports Website_Playing real money baccarat_Blackjack odds_Sports online

  • 时间:
  • 浏览:0
  • 来源:Judi online malaysia

Segala yang ada dBaccarat strategyBaccarat strategyBaccarat strategyI dalam dunia ini, terdiri atas dua bagian

Tak ayal, demo demo 212 ini, pasti ada banyak orang yang sengaja ataupun tak sengaja bernostalgia dengan serial Wiro Sableng . Namun Ken Ken, orang yang pernah menjadi pemeran pendekar rekaan Bastian Tito tersebut tak ingin dikaitkan. “Jangan kaitkan aku sama demo 212 dong. Hahaha,” kata Kenken dalam sebuah wawancara dengan Tirto.id.

Dalam diri manusia terdapat dua unsur ingat duniawi dan Tuhan

Ohhh ya, kalau kamu lagi bosan dengan tayangan televisi yang di mana-mana sedang bahas pemberitaan aksi unjuk rasa 212 atau 2 Desember 2016, kamu bisa bernostalgia dengan video-video serial Wiro Sableng yang pernah menghiasi masa lalu kita dengan indah.

Begitulah penggalan lirik yang ada dalam soundtrack serial televisi Wiro Sableng. Beberapa orang pasti masih ingat dengan serial yang pernah tenar ini. Namun, mungkin ada banyak orang yang memang kurang familiar dengan penggalan lirik yang sedikit menjelaskan filosofi dan pemaknaan angka 212 ini.

Ayahnya, Raden Ranaweleng, meninggal dalam sebuah pertarungan melawan tokoh antagonis dalam cerita tersebut. Suci Bantari, ibu dari bayi Wiro, yang jadi korban kekerasan pun mengalami luka parah dan tak sadarkan diri. Sang ibu pun dibopong oleh sang antagonis yang memang terobsesi dengan kecantikannya. Jadi tak heran, ketika ada sesosok bayi yang sendirian dan berada dalam bahaya, Sinto dengan heroik menyelamatkan bayi Wiro. Wiro pun akhirnya dibawa Sinto ke padepokannya.

Wiro sudah diasuh sejak bayi oleh gurunya bernama Sinto Gendeng. Melihat sosok bayi yang ditinggalkan dalam sebuah balai bambu rumah yang terbakar, Sinto datang menyelamatkan Wiro yang masih bayi. Bayi Wiro terbengkalai bukan tanpa alasan.

Buat kamu yang belum tahu, Hipwee Boys mau ngasih tahu kalau nomor 212 bukanlah nomor darurat yang sering kita jumpai di buku-buku telepon. Akan tetapi, 212 merupakan nomor pamungkas dari seorang pendekar bernama Wiro Saksana atau yang kita kenal dengan Wiro Sableng. Bagi kita yang pernah merasakan hidup pada medio 1980 sampai 1990-an, istilah 212 bukan lagi sesuatu yang asing di telinga. Sebuah novel Wiro Sableng karya Tito Bastian yang pernah memberikan kenangan tersendiri jadi alasannya. Nah daripada dituduh ikut memperkeruh suasana, Hipwee Boys mau mengajak kamu untuk bernostalgia aja deh dengan serial televisi legendaris tersebut.

Satu hal unik yang membedakan Wiro dengan pendekat-pedekar lain pada masanya adalah dengan kelakuannya yang konyol. Itulah kenapa disebut Wiro Sableng. Saat berduel, musuhnya biasanya sangat serius. Namun di sisi lain, Wiro malah lebih senang meladeninya dengan bercanda. Kalau keadaan mendesak, barulah Wiro serius dengan melancarkan jurus-jurus pamungkasnya.

212 adalah filosofi tentang manusia dan posisinya dalam hidup. Bagi mayoritas orang, demo yang ada saat ini mungkin memang perlu karena ini terkait dengan Tuhan yang mereka percaya. Namun di sisi lain, tentu saja ada pihak yang kurang mendukung demo ini karena beberapa alasan yang juga nggak kalah bagus. Yang jelas, seperti filosofi 212,  kedua kubu yang berbeda harus tetap satu sebagai bangsa. Karena saat 1 menjadi 2, maka itu artinya adalah perpecahan. Namun, saat 2 menjadi 1, maka itu artinya adalah persatuan.

Selain aksi laganya yang memang seru buat ditonton, sinetron ini juga menyuguhkan aksi-aksi lucu yang bisa bikin kita ketawa. Omong-omong, kamu juga pasti setuju dengan Hipwee Boys kalau kita sering dibuat ketawa saat melihat adegan behind the scene-nya, apalagi ketika ada kereta kuda yang tumpah. Bikin perut dikocok pokoknya.

“Kita, kan, negara hukum, tangkap Ahok misalkan dia salah, kalau dia benar yang dilepaskan. Sebagai umat Islam kita mesti tahan, legowo, dan sabar. Nabi juga dulu dikejar-kejar kok, dan dianiaya,” ungkap Ken Ken yang kini menghabiskan diri hidup di dunia pertanian.

“Memang ramai sekarang yang mengaitkan demo 212 sama aku. Tapi, ya, mungkin kebetulan saja tanggal 2 bulan 12. Gak ada hubungannya sama Wiro Sableng. Mana mungkin aku diundang ke Istana,” lanjutnya.

Bagi kamu yang jadi penggemar serial Wiro Sableng, kamu mungkin masih ingat ingat dengan nama jurus-jurusnya. Ada Kunyuk Melempar Buah, Pukulan Sinar Matahari, Pukulan Angin Puyuh, dan juga senjata pamungkasnya yaitu Kapak Maut Naga Geni 212.

Angka 212 memiliki filosofi di mana dalam hidup seorang manusia ada dua unsur yang saling berpasangan, tapi pada akhirnya, unsur tersebut takkan bisa ada jika tak ada angka 1. Angka 1 sendiri berarti sebuah sumber dari segala sumber. Tak lain dan tak bukan adalah Tuhan. Dalam penggalan lirik di atas, kita juga dapat menarik kesimpulan bahwa 212 memiliki makna keseimbangan antara masalah ketuhanan dan masalah duniawi.

Yang berlainan namun merupakan pasangan

Angka 212 memiliki makna di dalam kehidupan

Ada pesan juga dari Wiro Sableng buat elemen masyarakat yang ikut unjuk rasa. Bukan cuma buat mereka yang mengkritisi keadaan masalah Ahok sih, tapi bisa juga kita aplikasikan buat orang yang pro-Ahok. Menurutnya, tentang masalah Ahok, kita semua mending lihat prosesnya saja dan menghargai proses hukum.

Keduanya tak dapat terpisahkan…

Pendapat lain mengatakan bahwa angka 212 tak bisa lepas dari sosok manusia itu sendiri. Contohnya dalam tubuh manusia. Kamu bisa sorot sendiri terdapat unsur 212. Ketika unsur 1 hilang, tubuh kamu bisa kerepotan atau bahkan mungkin mati. Contohnya, ada dua telinga, dua mata, dua lubang hidung, dua tangan, dua kaki. Namun jika unsur 1 tak ada atau rusak dalam dirimu, entah bagaimana hidupmu. Tak ada kepala, tak ada jantung. Bisa dibayangkan sendiri bagaimana?

Sejak saat peristiwa penyerangan yang menimpa orangtua Wiro, Sinto mengambil alih peran orangtua demi Wiro. Tak hanya diasuh, Wiro juga kemudian digembleng sosok yang terkenal di dunia persilatan tersebut. Wiro kemudian menjadi pendekar hebat.

Setelah jilid pertama dan jilid kedua digelar pada dua bulan sebelumnya, aksi unjuk rasa sejumlah elemen masyarakat kembali terjadi pada hari ini. Kali ini, “Bela Islam” jadi tajuk unjuk rasa hari ini. Namun, ada hal menarik yang tak bisa kita campakan, yaitu penggunaan istilah 212. Istilah tersebut mengacu pada tanggal terjadinya unjuk rasa.